Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

I La Galigo Menurut Ian Caldwell Asal inggris dan Horst H. Liebner Asal Jerman Tentang I La Galigo

Jumat, 16 Oktober 2020 | 15:00 WITA Last Updated 2020-11-13T19:21:44Z


Bagian utama dari La Galigo tak lain adalah kehidupan Sawerigading. Cerita cucu Batara Guru ini sedemikian memikat, sehingga rakyat Sulawesi Selatan menganggap sosok ini nyata. 

Artinya, Galigo diperlakukan sebagai sumber sejarah untuk periode zaman tembaga-besi akhir (prasejarah). Bisakah? Ian Caldwell, dosen sejarah di Universitas Hull, Inggris, yang melakukan penelitian arkeologis selama tiga tahun di Luwu dan sekitarnya, menampiknya.

Alasannya, anakronisme (penempatan kejadian pada waktu yang salah) yang bertaburan di dalam naskah La Galigo. Misalnya, gambaran Kerajaan Luwu dan kerajaan Cina adalah cerminan keadaan politik dan demografis pada abad ke-15 sampai 17. 

Padahal, dari pemakaian bahasa Galigo yang arkaik (tidak lazim dipakai), terlihat bahwa Galigo lahir pada masa yang jauh lebih kuno.

Kisah pengembaraan Sawerigading dengan kapal La Welérénngé ke berbagai negeri jauh, bila dilihat dengan kacamata ilmu pelayaran yang sebenarnya, terlihat ganjil. 

Di mama, Waktu tempuh untuk daerah yang secara geografis sangat dekat bisa memakan waktu berbulan-bulan, sedangkan untuk daerah yang lebih jauh malah ditempuh dengan waktu singkat saja. 

Karena itu, Horst H. Liebner, ilmuwan asal Jerman yang bertahun-tahun mempelajari seluk-beluk perahu tradisional Sulawesi Selatan, menilai bahwa perjalanan Sawerigading adalah perjalanan mimpi. 

Alhasil, toponomi sebagian Nusantara menurut Galigo—dengan Luwu sebagai “pusat dunia”–menurut Liebner tak lebih dari upaya mengagung-agungkan kejayaan tertentu tanpa melihat kenyataan dunia riil.

Kaum ningrat Bugis masa itu ingin dielu-elukan sebagai penguasa jagat raya,” kata Liebner. Menilik bertaburnya “kesembronoan” data tersebut, diduga perawi Galigo adalah para perempuan bangsawan Bugis yang tak akrab dengan dunia pelayaran ataupun geografi. 

Indikasi yang menunjukkan identitas pengarang adalah penggambaran pernik upacara serta aktivitas bissu yang demikian detail. Hal ini lebih banyak diketahui golongan wanita ningrat. 

Genangan fantasi dalam Galigo memang jadi mencemaskan bila naskah tersebut dipakai sebagai rujukan sejarah.

Buku ini adalah EPOS dan sama seperti cerita-cerita Mahabrata, Ramayana, lliad, Odysseus, La Chanson de Roland, dan banyak lagi Epos Epos lainnya. Buku Epos ini tidak bisa dijadikan rujukan sejarah dengan pendekatan ilmiah.

Penulis: Fadly Djafar

×
Berita Terbaru Update