
Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol adalah salah satu Kecamatan yang paling sudut timur Sulawesi Tengah ternyata memiliki sejarah yang cukup unik.
Kecamatan yang berbatas langsung dengan Provinsi Gorontalo ini ternyata menyimpan cerita yang cukup dalam dan belum diketahui banyak orang terkait dengan Paleleh yang menjadi nama Kecamatan.
Menurut beberapa sumber dari tetua yang ada di kecamatan paleleh, penamaan kecamatan ini diambil dari nama beras dalam bahasa buol yaitu “pare”.
Saat itu, menurut kisah di kecamatan ini pernah terjadi panen raya namun daerah ini belum mempunyai nama sehingga mereka setuju untuk memberi nama daerah tersebut dengan pareleh/paleleh yang berarti tempat panen beras.
Namun sampai sekarang untuk pembuktian asal usul nama paleleh masih menjadi tanda tanya bagi para sejarawan kabupaten buol.
Paleleh juga ada yang menyebutkan bahwa merupakan ibukota kabupaten buol pada zaman penjajahan belanda. Hal ini pula dapat dibuktikan dengan terdapatnya rumah-rumah belanda yang ada di paleleh.
Bahkan, saat itu, paleleh merupakan tempat berlabuhnya para pemuda buol yang menghadiri sumpah pemuda pada tahun 1928.
Sehingga itu, jika dilakukan penelitian dari seluruh kecamatan yang ada di kabupaten buol palelehlah yang paling fasih dalam penggunaan bahasa indonesia.
Saat ini, Paleleh sudah menjadi merupakan daerah perbatasan provinsi sulawesi tengah dan provinsi gorontalo, dan sudah memiliki 12 desa, diantaranya, Desa lintidu, dopalak, paleleh, tolau, dutuno, kwalabesar, baturata, talaki, lilito, pionoto, molangato, dan umu.
Tak hanya itu, saat ini juga paleleh sudah banyak mengalami perkembangan dalam hal pembangunan dari semua segi kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan hukum.
Mata pencaharian masyarakat paleleh didominasi oleh petani,penambang dan nelayan. Paleleh juga merupakan daerah dengan sumber daya alam yang melimpah. dari sektor laut sampai dengan sektor pertambangan. Paleleh dapat dikatan sebagai daerah paling potensial di kecamatan paleleh.