Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perahu Yang Menepi

Kamis, 01 Oktober 2020 | 16:13 WITA Last Updated 2020-11-14T12:31:17Z

 


Perahu itu menepi. Dia menepi bukan karena sengaja. Dia menepi karena ada arus yang membawanya. Angin pun ikut membantunya, sehingga perahu yang terjebak di tengah lautan dengan waktu yang cukup lama, akhirnya bisa kembali merasakan kelembutan buritan pasir putih di pantai tempat perahu itu menepi.


Sebelumnya menepi, perahu itu sudah pernah berusaha untuk mencari pantai yang bisa menghilangkan lelahnya saat terombang-ambing, dengan ombak serta badai yang menghantamnya saat berada di tengah laut. Memang sangat sulit, hanya pantai yang bisa membuat perahu bisa lagi mendapatkan masa depannya.


Saat ditengah laut, perahu itu sempat putus asa. Dia pernah berpikir untuk menenggelamkan dirinya saja, dibanding bertahan dengan hempasan ombak yang sebenarnya tak mampir dia hadapi. Badai yang selalu menghantuinya, juga menjadi alasannya dirinya sempat berpikir pasrah.


Mengapa tidak. Ombak dan badai yang selalu menerpanya, membuat dirinya terguling terus. Kadang haluannya menjadi kemudi, kadang kemudinya menjadi dayung. Hal itu membuat dirinya tidak percaya diri, seakan-akan kehidupan yang dijalaninya, bukan dia yang menentukannya. Itu yang membuat dia rapuh.


Tak hanya itu, warna cat yang menghiasi tubuhnya, ikut suram. Sedikit demi sedikit kulit-kulitnya juga ikut terkupas. Warna yang awalnya terlihat cerah, menjadi hilang. Dia terlihat sangat kusam, tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa.


Saat itu, tak ada yang bisa menolongnya. Jika ada yang menolong, akan ikut terhempas oleh badai dan ombak yang menghantamnya, bahkan yang menolongnya, tidak akan sanggup jika menggantikan posisinya yang sudah sejak lama berada di situasi itu.


Memang tak sanggup jika dilihat, tapi perahu itu tetap menghadapinya. Perahu itu berusaha tetap kuat melawan badai dan ombak yang terus membuatnya terluka. Perahu itu percaya, dibalik badai, di balik masalah yang dihadapinya, ada cahaya yang menuntunnya untuk mendapatkan pantai yang bisa menghilangkan lelahnya.


Waktu yang semakin berjalan, akhirnya perahu itu mendapatkan impiannya, cahaya yang dipercayai untuk bisa menuntunnya, kini terbukti. Ombak yang dulu menempasnya, kini menjadi arus yang menyelamatkannya. Badai yang dulu menghantuinya, kini menjadi angin yang meniupnya hingga menepi ke pantai.


Usai menepi, perahu itu sangat bahagia. Dia kembali mendapatkan jati dirinya. Cat yang sudah kusam, kini kembali cerah. Kulit-kuli yang awalnya sudah terkupas, kini berubah menjadi halus lagi. Kelembutan pasir putih pantai membuat dirinya berubah. Sikap pasrah yang dirinya genggam sebelumnya, menjadi rasa semangat untuk hidup lebih lama lagi.


Pantai Itu, merubah banyak hal dari perahu itu. Kelembutan pasir putih yang dimiliki pantai itu, menjadi sesuatu yang istimewa buat Parahu itu. Sebab perahu yang dulunya hidup dengan situasi yang mengcengang, kini mendapatkan kenyamanannya yang membuat dirinya bahagia. Senyuman yang sebelumnya tak keluar dari bibirnya, kini menjadi hal yang rutin karena pantai itu.


Dengan menemukan pantai, perahu itu sudah cukup bahagia. Dia tak lagi yang dulu. Dia menjadi dia lagi. Kehidupannya kini bisa ditentukan olehnya. Pantai itu yang menemaninya. Dia ingin hidup selamanya di pantai yang memiliki pasir putih yang sangat lembut itu. Dia tak mau lagi memandangi masa lalunya. Sebab, kini dia sudah cukup bahagia.


Gorontalo, 16 Juli 2020
Sarjan Lahay

×
Berita Terbaru Update