![]() |
| Ilustrasi Gawai (Foto: Pixabay.com) |
Opini - Gawai menurut kamus besar bahas indonesia artinya kerja. Berbeda dengan pegawai yang artinya pekerja atau karyawan. Secara terminologi gawai atau dalam bahasa inggris gadget merupakan suatu alat peranti yang berukuran kecil dan dapat digenggam.
Teknologi gawai yang terus berkembang mengikuti permintaan pasar sangat diminati oleh masyarakat. Tak heran alat ini mudah di temukan baik di kota besar skala metropolitan maupun di kota kecil skala kabupaten.
Keberadaan gawai saat ini sudah menjadi kebutuhan primer. Berbagai aktifitas sehari-hari dapat dilakukan dengan alat ini. Dimulai dari bangun pagi melihat jam, perencanaan hari ini, berita pagi hari, tempat makan siang yang enak, pesan transportasi secara online, jadwal film layar lebar, pesan makan malam tanpa harus keluar rumah secara online, sampai menulis diary sebelum tidur. Itu semua hanya membutuhkan gawai di genggaman tangan.
Belum lagi saat ini akibat dari pandemi covid 19 proses belajar mengajar, aktifitas perkantoran, maupun jual beli semua dilakukan lewat gawai. Forum lokal, nasional, sampai internasional, semua memakai gawai. Aktifitas sehari-hari harus beradaptasi dengan kondisi pandemi saat ini, sehingga beberapa perusahaan dan perkantoran baik swasta maupun negeri menggunakan gawai pada kegiataanya.
Pola interaksipun berubah, jika dahulu bertutur sapa dengan berkunjung dan bersilaturahmi. Sekarang, hanya menekan lewat ibu jari sapaan dapat sampai ke berbagai negara dengan banyak orang yang menerimanya. Atau dengan mengaktifkan video call ruang dan jarak tak terbatas. Bagai berhadapan dan bertatap muka secara langsung, tanpa harus membeli tiket pesawat, kereta api, kapal laut untuk bertemu atau menyampaikan pesan.
Pengaruh gawai sampai memasuki relung dan merubah cara kita dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan bertransaksi. Akan tetapi, selain memiliki dampak positif gawai juga dapat memberikan efek negatif bagi penggunanya. Adapun beberapa yang menurut saya memberikan dampak negatif yakni :
Alienasi
Gawai mampu membuat para penggunanya teralienasi dengan lingkungan sekitarnya. Sering kali penulis mendapatkan fenomena ini. Disaat lagi asyik berdiskusi atau ngobrol dengan teman sejawat. Salah satu dari teman ngobrol saya asyik dengan gawainya. Ia fokus membalas chating di salah satu platform media yang terdapat pada gawainya. Akibatnya ia tertawa dan tersenyum sendiri disaat yang lain serius menyimak dan berdiskusi. Ia hanyut dalam buaian fantasi dunia maya yang dibuatnya. Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Alienasi antara pengguna gawai dengan lingkungan sekitarnya terjadi. Dan beberapa dari korban tak menyadari hal itu.
Distorsi
Selain menjadikan orang teralienasi, gawai juga mampu menjadikan seseorang terdistorsi. Seperti misalnya, disaat ingin makan umumnya orang mencuci tangan berdoa kemudian menyantap makanan. Lain halnya saat ini.
Sebelum menyantap makanan hal yang lumrah dilakukan yaitu memfoto dan membaginya di beberapa platform media sosial. Agar si pelaku mendapat pengakuan dengan parameter jumlah like, viewer, dan komentar.
Akibatnya hal yang tadinya aneh, setelah beberapa platform media berkembang menjadi lumrah dan umum. efeknya mendistorsi perilaku manusia. Tujuannya juga bukan hanya sebagai kebutuhan primer untuk menghasilkan energi akan tetapi lebih kearah status sosial, ingin terlihat kekinian, ikut trend yang lagi hits, dll.
Adiktif (kecanduan)
Selain rokok, minuman keras, dan narkoba gawai juga memiliki sifat adiktif bagi para penggunanya. Fenomena ini pernah dialami oleh penulis sendiri. Disaat waktu luang para pengguna senang berselancar di beberapa platform sosial media. Tanpa terasa detik, menjadi menit, menit menjadi jam waktu pun terbuang hanya karena fokus memainkan platform yang ada di gawai.
Karena keseringan akhirnya menjadi kebiasaan. Lama kelamaan akan menjadi adiktif. Sehingga yang dahulunya memanfaatkan gawai untuk mendukung kegiatan berubah menjadi kebutuhan yang mesti di penuhi.
Itulah beberapa efek dari penggunaan gawai. Sebagai alat atau mesin semestinya gawai hanya dijadikan aksesibilitas untuk mendukung berbagai macam aktifitas dan pekerjaan. Bukan malah menjadi sebuah kebutuhan primer yang merubah beberapa perilaku kita. Dampaknya terlihat disekeliling kita bagaimana pengaruh gawai itu.
Oleh karena itu bijaklah dalam menggunakan gawai. Jika perlu manajemenkan waktu kita agar tidak di perbudak oleh alat tersebut. Karena hakikatnya gawai hanyalah alat untuk menunjang berbagai kebutuhan kita

