Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sang Kiai dan Ahli Maksiat

Sabtu, 13 Februari 2021 | 15:49 WITA Last Updated 2021-02-13T07:49:05Z
Moh. Rodney Neu 


Tepat pukul 06:00 Wita pagi, ada seorang anak yatim piatu yang asik berkelana kesana kemari dan menghabiskan waktu untuk maksiat. Namanya adalah dedi. Masyarakat tidak menerima kehadirannya dan menganggapnya adalah orang yang tidak takut dengan azab Tuhan. Hadirnya kebencian di masyarakat tidak membuat Dedi marah kepada masyarakat yang membencinya. Justru Dedi memilih sikap diam saat dibicarakan tak enak oleh masyarakat.


Pagi hari tiba, Dedi mulai berkelana menyusuri desa untuk menemui teman-temannya dan memulai kebiasaan maksiat kepada Allah. Seperti biasanya, jika sudah menjelanh sore Ia harus kembali kerumah dalam keadaan mabuk berat. Saat di perjalanan balik kerumah Ia memilih jalan melewati Pondok Pesantren, entah mengapa Ia terhenti dan langsung duduk sambil menatap pintu gerbang Pondok Pesantren. Semakian lama Ia menatap, semakin hadir bayangan orang tuanya. Ia berfikir seperti ada pesan yang ingin disampaikan melalui Pondok Pesantren dan lejadian ini jarang terjadi. Dedi ingin sekali memeluk orang tuanya yang berdiri di dalam pesantren. Namun sayangnya tak bisa Ia lakukan. Azan magrib pun mulai di dengungkan, Dedi harus balik ke rumah sembari meneteskan air mata.


Singkat Cerita..

Dulu, orang tua Dedi pernah menyantri di Pondok Pesantren tersebut dan punya hubungan erat dengan Kiai Hen. Tapi perihal ini tidak di ceritakan kepada Dedi.


Di keheningan malam terdengar suara jangkrik dan nyanyian nyamuk yang mengelilingi tubuh Dedi yang sudah tertidur. Tiba-tiba Dedi kedatangan tamu yang tak lain adalah Ibu dan Bapaknya, tetesan air mata membasahi wajah Dedi.


"Bagaimana kabar Ibu dan bapak?" Tanya Dedi penuh emosi rindu


Dedi bercerita tak beraturan pengaruh efek minuman keras.


"Nak. Kamu mabuk lagi? Kamu tidak bisa begini terus. Kamu harus tobat, pergilah ke Pondok Pesantren, Kiai Hen sudah menunggumu disana." Ucap Ibunya


"Jangan kamu meninggalkan Sholat walaupun masyarakat mencap kamu sebagai ahli maksiat atau pencuri. Ayah yakin kamu akan lebih tenang jika bertemu dengan Kiai Hen." Ucap Ayahnya.


"Demi cintaku pada kalian, Aku akan pergi kesana menemui Kiai Hen" Ucap Dedi


Dedi hanya bisa menangis dan menahan rindu.


Tak lama kemudian Dedi terbangun dari tidur dan menyadari ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi. Tapi di sisi lain juga Dedi sontak kaget saat melihat seorang Kiai yang tak Ia kenal yang berdiri di pintu kamar.


"Ayoo bangun, Ini sudah pagi. Kita harus pergi ke Pondok Pesantren." Ucap Kiai


"Kamu siapa? Kok tiba-tiba sudah berada di kamarku?" Ucap dedi


"Tidak usah tau siapa namaku. Aku adalah seorang Kiai yang di pesantren. Ayo kita pergi ke pesantren." Ucap Kiai


"Aku masih dalam keadaan mabuk." Ucap Dedi


"Emangnya kalau mabuk kamu tidak bisa berjalan dengan saya?" Tanya Kia


"Tapi kenapa kamu bisa masuk kesini? Padahal pintu dan jendela telah saya kunci." Ucap Dedi penuh tanya


"Tidak usah banyak tanya. Ayoo segera ganti pakeanmu." Ucap Kiai


Dedi berfikir ini adalah jalan yang pas untuk bertemu dengan Kiai Hen di Pesantren. Tanpa banyak bicara, Dedi segera mengganti pakian dan pergi bersama Kiai yang tak Ia kenal.


Saat diperjalanan, Dedi banyak berbincang dengan Kiai tersebut. Namun, saat setengah perjalanan menuju Pesantren, masyarakat heran dengan sikap Dedi yang berbicara sendirian. Mereka berfikir Dedi bersikap demikian karena minuman keras yang masih menguasainya.


"Hey Dedi. Kamu berbicara dengan siapa? Dasar ahli maksiat. Sukanya menghayal." Ucap salah satu masyarakat


Dedi berjalan terus menuju Pondok Pesantren bersama Kiai dan tak peduli dengan ejekan tersebut.


Saat tiba di depan pintu Pondok Pesantren Hal aneh terjadi dan membuat Dedi sadar bahwa hanya Ia yang dapat melihat Kiai disampingnya.


"Hey ahli maksiat, Kamu mau ngapain disini?" Ucap santri yang menjaga pintu gerbang


"Yuuk kita usir saja dia. Jangan sampai kiai hen marah dengan kedatangan Dedi yang sedang mabuk." Ucap santri satunya lagi


"Hay anak santri yang mulia dan terhormat. Apakah kalian tidak melihat Aku sedang berjalan dengan Kiai? Kiai inilah yang mengajakku untuk masuk kedalam Pesantren ini. Dimana adab kalian sebagai santri dihadapan Kiai?" Ucap Dedi


"Kamu memang mabuk berat. Kami tidak melihat Kiai yang kau maksud itu. Jangan mencoba membuat kami gila. Pergi sana. Bisa-bisa Pondok Pesantren di azab oleh Allah karena kedatanganmu." Ucap Penjaga


Dedi menyadari bahwa Kiai yang disampingnya tidak bisa dilihat oleh kedua santri itu dan masyarakat. Dedi hanya bisa terdiam dan menganggap itu adalah efek dari minuman. Sehingga Dedi memilih balik kerumah. Namun sebelum balik, Kiai tersebut berpesan kepada Dedi.


"Dedi. Kiai Hen telah menunggumu di Dalam Pesantren. Tapi kamu harus cari cara untuk masuk kedalam agar bisa bertemu dengan Kiai Hen."


Kiai yang bersamanya sudah masuk lebih dulu di Pesantren. Sedangkan Dedi masih terdiam di depan gerbang Pesantren dan menganggap kejadian ini seperti nyata tapi ilusi. Dedi langsung pulang dan tidak peduli dengan ucapan Kiai tadi.


Setelah balik dari pesantren Dedi langsung pergi bertemu dengan teman-temanya untuk maksiat. Kali ini Ia pulang malam dalam keadaan mabuk lagi. Saat sedang asyik-asyiknya berbaring, Dedi berubah pikiran. Ia ingin memenuhi panggilan Kiai untuk menemui Kiai Hen. Tapi kali ini Dedi harus masuk secara diam-diam agar tidak di usir lagi. Dedi harus menunggu sampai jam 00.00 Wita agar tidak ketahuan saat masuk dipesantren.


Saat pukul 00.00 Wita tiba, Dedi sudah menuju pintu belakang Pesantren, Ia berhasil membobol pintu belakang. Saat sudah berada di dalam pesantren Dedi kebingungan harus mencari dimana Kiai Hen dan Ia tidak ingat seperti apa wajah Kiai Hen. Dedi melihat ada sebuah ruangan dan memberanikan diri masuk kedalam. Tapi Dedi salah masuk ruangan, ternyata itu adalah tempat santriwati. Seorang santrwati yang masih membaca Kitab berteriak melihat Dedi. Teriakan ini pun membuat semua santriwati ikut berteriak sehingga semua santri terbangun.


Dedi mulai panik, mereka mengira Dedi adalah pencuri. Sebelum penjaga datang Dedi telah lebih dulu keluar ruangan dan bersembunyi di kamar mandi yang ternyata itu adalah kamar mandi pribadi Kiai Hen.


Para santri tak bisa menemukan Dedi. Mereka menganggap Dedi telah kabur diluat Pesantren. Dedi merasa aman bersbunyi dikamar mandi. Jam sudah menunjukan pukul 04.00 Wita, Dedi mulai gerah di kamar mandi, Ia takut keluar. Karena tak tahan di kamar mandi, Ia mandi dengan menggayungkan air di kepalanya. Saat membasahi kepala, Dedi merasa segar. Tapi yang ketiga kalinya membasahi badan, Dedi jatuh pinsan dan tak sadarkan diri.


Waktu subuh sudah di kumandangkan dengan merdu. Namun Dedi masih dalam keadaan tak sadarkan diri di kamar mandi. Kiai Hen yang ingin buang air kecil kaget saat membuka kamar mandi, Dedi terbaring pinsan di kamar mandi. Kiai Hen masih mau sholat subuh dan Dedi dibiarkan sendiri di ruang tamu.


Saat shalat subuh telah selesai, Dedi telah sadarkan diri dan bertanya-tanya mengapa Ia sudah berada di sebuah ruangan. Tiba-tiba Kiai Hen masuk ke ruangan dan menyapa Dedi.


"Ehh kamu udah bangun yaa. Istrahat aja dulu, jangan banyak bergerak." Ucap Kiai Hen


"Kamu siapa?" Tanya Dedi


"Aku adalah Kiai Hen. Aku sudah menggumu 2 hari lalu. Tapi kau tak datang-datang."


"Mohon maaf Kiai, apakah anda yang berada di mimpi saya?" Tanya Dedi penuh kebingungan.


"Bukan. Itu temanku." Ucap Kiai Hen


"Kok Aku bisa di sini? Bukanya Aku dikamar mandi?" Tanya Dedi


"Tadi Kamu sudah tergeletak di kamar mandi dan Aku sudah kasihan, terpaksa Aku harus mengangkatmu sendirian di ruangan ini." Ucap Kiai


Tanpa bertele-tele, Dedi sudah tidak sabar menanyakan perihal kejadian yang Ia alami.


"Makasih Kiai. Ada hal lebih penting yang ingin Aku tanyakan Kiai." Ucap Dedi


Dedi menceritakan semua kejadian hingga menanyakan maksud ajakan Kiai Hen kepada dirinya untum masuk di Pondok Pesantren.


Kiai Hen menjawab semua kegelisahan Dedi.

"Sebenarnya Aku sudah lama menunggumu. Semua yang kau mimpikan dan bayangan orang tuamu adalah tanda agar kamu harus datang kesini, tapi Kamu kurang peka. Sehingga Aku harus menyuruh temanku untuk mengajakmu kesini." Ucap Kiai


"Mohon maaf Kiai, tapi apa maksud semua ini? Mohon diperjelas Kiai" Tanya Dedi


"Aku tahu kamu diluar sana telah melupakan Tuhan dan banyak menghabiskan waktu untuk maksiat kepada Allah, tapi itu bukanlah hal penting bagiku. Ada hal penting yang ingin Aku ceritakan. Dulu, sebelum orang tuamu pergi menghadap Allah, mereka berpesan kepadaku agar merawat dan membimbingmu. Aku sebagai Kiai harus menjalankan amanat tersebut, walaupun kamu penuh dosa tidak membuat Aku membatasi ruang gerak denganmu. Bertobatlah nak, Mulailah hidup baru di Pesantren ini. Meninggalkan hal yang kamu sukai dan melakukan hal yang tidak kamu sukai memanglah sulit, tapi kamu harus mencobanya. Karena itu adalah jalan bertemu Ibu dan Bapakmu."


"Tapi Kiai, Aku sudah banyak maksiat kepada Allah. Apakah Allah akan menerima tobtku?" Ucap Dedi sambil meneteskan Air mata


"Kamu jangan khawatir diterima atau tidak, Biarkan itu urusan Allah." Ucap Kiai Hen


"Baiklah. Aku mohon padamu terimalah Aku sebagai santrimu. Aku akan belajar agama walaupun terasa berat. Aku merasa lebih dekat dengan orang tuaku jika berada dipesantren ini. Mungkin ini adalah jalan yang harus Aku tempuh." Ucap Dedi


Kiai Hen hanya tersenyum manis dan langsung menyuruh para santri mengantarkan Dedi di kamarnya. Sementara itu, para santri yang mengantarnya kebingungan dengan sikap Kiai yang menyuruh seorang ahli maksiat tinggal di Pesantren.


Ke esokan harinya, Kiai Hen mulai membimbing Dedi untuk bertobat dengan sholat tobat 2 rakat. Saat rakaat terakhir, Dedi sudah tidak bangun-bangun dari sujudnya. Kiai Hen hanya terdiam dan hati bercampur aduk antara senang dan sedih dengan kematian Dedi. Proses pemakaman segera dilaksanakan, dan Dedi dimakamkan dekat kubur Ibu bapaknya.


Penulis: Moh. Rodney NeuNeu - Gusdurian Gorontalo


Cerita ini terinspirasi saat saya dan Crew Nulondalo Multimedia Grup berkunjung ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Tapi cerita ini hanyalah opini.


×
Berita Terbaru Update