Opini - Sebuah perayaan didalam teks, setelah perayaan melalui gambar, saya mencoba merayakannya didalam sebuah tulisan yang mungkin tidak terlalu berbobot, tapi bagaimana pun tulisan ini ku yakini sebagai penyemangat diri sendiri untuk tetap berkhidmat sebagai kader pergerakan.
Menghitung jam, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia akan mencapai usia 61 tahun. Sebuah usia pengkhidmatan yang tidak begitu singkat untuk bangsa dan agama.
PMII telah berdialektika dengan setiap fase zaman dan tentunya memberi sumbangsih yang cukup besar bagi sejarah perjalanan pembangunan bangsa. generasi silih berganti. Entah berapa banyak generasi yang telah terdidik sejak 13 angkatan muda NU mendeklarasikannya 17 april 1960 di Surabaya. Semua kader bersorak menjemput untuk bersuka cita seraya berdoa untuk hari yang kita nanti-nantikan ini.
17 april di setiap tahunnya tentu jadi momen-momen yang tak biasa bagi kader-kader PMII terlebih mereka yang senantiasa menjaga ruang tengah sekretariat tetap berasap untuk memastikan bahwa hidup dan kehidupan belum berakhir, kita harus tetap bergerak.
61 tahun sudah cita-cita luhur mu dalam mengawal bangsa. Usia yang seharusnya matang untuk tetap mengarungi dinamika yang ada. Tak sedikit tulisan yang lahir dari kader-kader yang selama ini aktif didalam memakmurkan dan merawat proses kaderisasi di PMII yang berisi secarik tulisan tentang harapan di setiap momen harlah. Dan juga tak terhitung jumlah puntung rokok yang menghiasi pekarangan sekretariat, itu benar. meski puntungmu kerap jadi persoalan kebersihan bagi kader-kader koprimu, namun tetap tidak mengurangi sedikitpun kadar penghormatanku untukmu sahabat !
Kita meyakini tidak sedikit kader yang ikut berkontribusi baik dalam pemikiran hingga gerakan. Ini mungkin tak lepas dari sosok Mahbub Junaidi sang inisator yang mengawali gayung perjalanan PMII yang mengilhami hampir seluruh kader untuk bisa sepertinya, serta Muhammad zamroni (ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang selama ini menjadi corong panutan bagi kader-kadernya yang giat di parlemen jalanan.
Tak seperti organisasi kemahasiswaan lainnya, kelahiran PMII harus melewati drama yang panjang untuk mencapai format yang optimal sebagai organisasi yang khusus untuk menaungi para intelektual muda dikalangan Nahdlatul Ulama saat itu. Perdebatan kecil kerap lahir sebab akibat kelahiran PMII tak jarang menjadi diskursus kader-kader baik di forum-forum formal hinggah forum santai dihadapan kopi sembari menggenggam sebatang rokok di jemari tangan sang kader. Dikarenakan Perbedaan sudut pandang dari berbagai literatur kadang membuat intensitas diskusi memanas hinggah nelupakan segelap kopi dihadapanmu telah mendingin.
Membaca sejarah memang jadi pekerjaan yang tidak mudah, terlebih harus menemukan titik temu dari sudut pandang yang tak sama akibat bias dari titik berangkat literatur yang juga acapkali berbeda-beda. Namun bagi agus sunyoto yang meyakini bahwa mustahil melepaskan kelahiran PMII dari konteks ruang-waktu politik golongan yang kalah itu memang menjadi platform di era soekarno yg kemudian banyak diyakini sebagai faktor eksternal yang merembet masuk kedalam internal NU sampai pada proses kelahiran PMII.
Layaknya organisasi kaderisasi yang lain, pmii tidak selalu berada pada posisi puncak untuk bisa terus memproduksi kader-kader yang yang dibutuhkan oleh zaman. Olehnya itu ruang diskursus mengenai pola kaderisasi kerap terus menjadi bahan perbincangan. Ada kalanya isu-isu seperti pola perkaderan dan manajemen organisasi yang ketinggalan zaman, kurang visioner, memudarnya tradisi intelektual, tidak punya gagasan atau karya untuk masyarakat, kehilangan strategi perjuangan, daya kritis menurun, kehilangan kekuatan batin telah mewarnai diskursus kaderisasi kita. Bagi organisasi sebesar PMII yang telah memiliki cabang di setiap daerah, tentu dinamika struktural juga kerap mewarnai perjalanan yang sudah sangat panjang ini.
Alih-alih menyelesaikan persoalan yang ada, persoalan struktural seolah jadi warisan yang tak bisa terputuskan rantainya. Kita sudah mulai terbiasa saling melukai satu sama lain, hampir tak bisa menemukan ruang titik temu untuk kemajuan bersama. Ini mungkin dikarenakan kita lebih sering mendengar bisikan pejabat dan konglomerat ketimbang memahami satu sama lain sebagai sesama kader yang telah memakan sebungkus nasi MAPABA. Kita hampir kehilangan semangat "independesi murnajati" yang selama ini menjadi ghiroh kader-kader pergerakan.
Didalam waktu tertentu, kita selalu mengatakan bahwa kita adalah ormas yang paling terbesar, tapi nyatanya kita msih kesulitan untuk menghitung seberapa banyak kader pmii yang menguasai berbagai leading sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak, bahkan di era digital hari ini yang dianggap sebagai tatanan baru masih amat sulit dijangkau oleh kader-kader. Bahkan yang kita asumsikan selama ini bahwa kader-kader pmii lebih condong pada ranah politik ternyata juga berbanding terbalik pada kenyataan yang ada, kita bisa menghitung sendiri berapa jumlah kader-kader pmii yang menjadi anggota parlemen entah itu skala daerah maupun hinggah nasional. Di sektor ekonomi juga kita jarang menemukan ada kader-kader pmii yang sukses berwirausaha.
Ada banyak catatan kritis yang muncul di setiap momen peringatan harlah, tak ada yang berubah, yang pada akhirnya hilang tak berbekas. Sebuah pertanyaan mendasar mungkin akan muncul, diusia 61 tahun ini kita sudah bisa melakukan apa ?
Dan pada akhirnya mungkin kita telah ditakdirkan untuk belum bisa menjawab apa yang gusdur sampaikan bahwa PMII benar-benar tidak pernah tahu cara untuk mencapai tujuannya.
Ada banyak harapan yang menggantung disetiap peringatan harlah, kita mungkin kadang berbeda didalam hal yang lain, tetapi tetap pada pengharapan untuk mewujudkan Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
