![]() |
| Direktur NUlondalo Multimedia, Romo Samsi Pomalingo (Kiri) dan Faisal Saidi (Kanan) yang merupakan salah satu Mahasiswa Gorontalo yang berada di Gorontalo. (Foto: Istimewa) |
Yogyakarta - Mahasiswa Gorontalo yang berada di Asrama Wonocatur Yogyakarta melaksanakan Diskusi rutin mingguan yang diselenggarakan, Rabu (7/4/2021) kemarin. Menariknya, pematerinnya merupakan salah satu pemikir progresif keberagaman Gorontalo, yang juga sebagai Direktur Utama PT. NUlondalo Multimedia, Romo Samsi Pomalingo.
Diskusi yang mengangkat tema “Berebut Wacana: Polemik Pemilikiran Islam di Gorontalo” yang hendak memeriksa kembali sudah sejauh mana peran pemikir tokoh agama lokal dalam merebut wacana kritis yang berbasis akademik di Gorontalo.
Dalam diskusi ini, dihadiri setidaknya 15 orang mahasiswa asli Gorontalo yang masing-masing berbeda latar belakang konsen keilmuan. Namun dalam perbedaan itu, dipersatukan dalam niat kolektif; menggelar secara masif wacana kritis.
Beberapa hal yang menjadi dasar argumentasi dalam melihat polemik pemikiran Islam di Gorontalo. Bagi Romo Samsi Pomalingo, para pemikir agama yang secara terbuka menerima pendapat serta pikiran, yang berbasis akademik nyaris tidak ada.
"Itu dilihat jelas ketika gerakan para tokoh agama secara sendirinya terjebak pada sektarianisme," Kata Romo Samsi Pomalingo saat memberikan materi
Lebih lanjut, kata Romo, NU dan Muhammadiyah pada dasarnya telah lalai dengan keberpihakan kebutuhan masyarakat lokal. Justru kecenderungan yang terjadi yakni dominasi politik pragtis.
Di lain pihak, Kata Romo, basis pendidikan tinggi yang membawa slogan Islam, justru tidak mampu mengimbangi wacana kritis, cenderung tertutup dan ekslusif.
"Kemudian, stok pemikir agama di Gorontalo yang benar-benar memberikan kebebasan berpikir kepada mahasiswa semakin ke sini, justru semakin berkurang," ungkapnya
Menurut Romo, apa yang menjadi alasan kaum urban salaf begitu lebih tertata dan mulai gemuk peminatnya, lantaran para tokoh agama pusing mengurusi hal politik, hingga lalai dalam membina, memberi nutrisi pengetahuan, dan menyodorkan studi krisis kepada masyarakat.
"Pada akhirnya, ini adalah tugas kolektif yang harus kita selesaikan. Anda jika balik Gorontalo, rubahlah paradigma yang tertutup itu, ungap Romo," Pungkasnya
