
Saat di depan kasir minimarket, saya lihat dua orang sedang antri di kasir sebelah. Tampaknya mereka berkawan. Tidak jaga jarak, salah satunya tidak pakai masker.
Melihat hal yang tidak cocok dengan pemahaman saya itu, saya punya banyak pilihan untuk beraksi. Bertanya kenapa nggak pakai masker, mengingatkan untuk pakai masker, menyalahkannya karena nggak pakai masker atau pilihan aksi lain.
Yang saya lakukan adalah mengambil sebungkus masker 3ply di dekat kasir yang berisi 3 lembar harga 9900 itu, membuka bungkusnya, menarik salah satu talinya sehingga lebih mudah diambil, lalu menyodorkannya ke orang itu. Saya nggak bilang apa2, tapi mungkin senyum saya terekspresikan melalui mimik wajah saya yang sebagiannya tertutup masker.
Orang itu tampak agak kaget, "Oh terima kasih", sambil mengambil masker yang saya tawarkan. Saya melanjutkan urusan dengan kasir lalu segera keluar. Saya lihat orang itu sudah pakai masker yang saya berikan tadi.
***
Poin saya bukan soal pakai masker. Itu hanya contoh. Poin saya, sesungguhnya manusia diberi kemampuan untuk memilih aksi sebagai bentuk respon atas suatu hal, internally or externally.
Externally misalnya apa yang terjadi di luar kita, contohnya orang nggak pakai masker tadi, internally misalnya emosi yang muncul dalam pikiran kita. Nah, justru mayoritas hidup kita itu sesungguhnya merespon apa yang terjadi di internal kita itu.
Anak kita bandel, tidak cocok dengan keinginan kita, muncul kemarahan. Sebelum beraksi terhadap kebandelan anak kita itu kita diberi kesempatan beraksi dulu terhadap kemarahan kita.
Bisa jadi, kita akan beraksi secara spontan, otomatis, kompulsif.. mengikut apa yang muncul dalam emosi kita. Saat itulah kita tidak menggunakan kesempatan yang diberikan untuk beraksi terhadap apa yang terjadi pada emosi kita.
Kita merasa lapar, kita memiliki pilihan untuk beraksi pada rasa lapar itu. Akan puasa, akan minum saja atau akan makan. Kalau makan, mau makan apa? Kalau mampu menyediakan makan apa saja, kita mau pilih apa, sedangkan kalau tidak mampu menyediakan berbagai pilihan, kita mau bagaimana... semua pilihan itu tersedia.
See, tubuh dan mental hanyalah kendaraan kita. Jadi apakah kita dikendalikan oleh kendaraan kita yang acap kali kompulsif itu, atau kitalah yang mengendalikan mereka.
Responsibilty means response+ability. Kita diberi kemampuan untuk merespon segala sesuatu, baik yang di depan hidung maupun yang di seberang benua atau yang ada di dalam diri kita. Responsibilty kita limitless, tapi action ability kita limited. Maka pilihan kita yang terbatas itu menentukan gambaran diri kita. Itulah jalan spiritualitas yang kita tempuh.
#SulukMakan
#SelfTalk
Alim, Direktur Jawa Imperium